Januari 2019, permulaan yang buruk

By Rizki Hardi , Selasa, 08 Januari 2019 8:15:00 PM

Januari 2019, awal tahun baru. Mereka yang diluar sana entah kenapa sangat menikmatinya, mereka sangat bersuka cita, dan masing-masing mempersiapkan resolusinya untuk tahun ini. Aku? Tidak melakukan itu.

Karena aku memulainya dengan membawa sebuah tanda tanya berujung kekecewaan yang mendalam. Mungkin bagi yang lain ini sepele, tapi aku tidak mau meremehkan hal sepele, karena jika terus terulang, bukan lagi sepele, melainkan serius. Sangat serius, sampai akhirnya aku pun tidak sempat menyusun resolusi untuk tahun yang baru.

Cinta? Ya, itu dia masalahnya. Berawal dari bercanda, pada akhirnya timbul rasa nyaman, lalu tiba" dia menghilang, tak ada kabar, bahkan pesanku pun tak dia hiraukan.

Kejadian itu bermula dari bulan Desember akhir tahun lalu, ketika tiba-tiba dia seperti ditelan bumi, hilang dan susah dihubungi. Ya, awalnya memang kita dari awal pun sudah berjarak, hanya sebulan sekali sejak bulan Oktober tahun 2018 kita bertemu. Tapi melalui pesan whatsapp, kita selalu bercanda tawa, saling support dan saling menghibur.

Sekitar tanggal 20 Desember, mulai ada yang aneh darinya, mulai dari jarang balas pesan, chatku pun hanya dia baca, sampai akhirnya chatku sendiri hanya ceklis dua yang berarti hanya terkirim, tidak dia baca. Aku berusaha berfikir positif, mungkin dia sedang sibuk, karena waktu itu memang dekat akhir tahun dan mulai tgl 22 Desember sampai 25 Desember adalah libur yang lumayan lama. Sehingga mungkin saja menjelang "closing book", jadi dia sibuk. Maklumlah, sebagai kaki tangan manager, dia termasuk orang yang sibuk.

2 Januari, aku mencoba menghubunginya lagi. Tetap tidak dibalas. Aku mulai merasa ada yang aneh, kenapa? Ada apa? Aku pun bingung sendiri dibuatnya. Aku terus menghubungi dia, menanyakan kabar, memberinya semangat untuk bekerja, dan hal semacamnya. Tetap tidak ada balasan.

4 Januari, malam, sekitar pukul 9 malam, aku mencoba menghubungin via Whatsapp lagi, menanyakan kabarnya, dan dia membalas. Tapi dari balasannya, aku mulai yakin ada yang aneh, karena dia membalas seperti kepada orang yg baru dia kenal, kaku, tak seperti biasanya. Tapi, aku masih senang karena akhirnya dia membalas pesanku. Sampai akhirnya aku bertanya masalah kenapa dia tidak membalas pesanku selama ini? Apakah aku ada salah yg tidak aku sadari? Apakah ada hal lainnya?, tapi dia tidak merespon lagi.

5 Januari. Aku makin penasaran dengan kenapa dia bersikap seperti itu. Seorang temanku menyarankan untuk coba saja menelponnya, dan aku mengiyakan. Aku memberanikan diri menelponnya, berharap mendapat jawaban atas apa yg membuat aku penasaran selama ini. Awalnya gagal, namun kesempatan kedua aku berhasil tersambung. Aku kaget, karena yang bicara adalah seorang COWOK!

Aku berusaha untuk tetap tenang dan bertanya, apakah "S" ada? Dia bertanya balik, ada urusan apa? Aku membalas, mau ngobrol sebentar boleh? Lalu dia bertanya lagi, ngobrol soal apa? Aku pun bingung, ini siapa? Apakah kakaknya? Setahuku dia gak punya kakak laki-laki, dan gak mungkin juga itu bapaknya, karena suaranya seperti suara laki-laki berumur 20-30an tahun.

Aku menjawab ada suatu hal yang saya mau sampaikan, sebentar. Dia terus bertanya, iya soal apa? Aku makin yakin, mungkinkah orang ini penyebabnya? Aku terus menjawab jawaban yang sama, lalu dia tiba-tiba bilang dengan nada lumayan tinggi, "kamu gatau dengan siapa kamu bicara?", dari sini aku mulai mendapat titik terang, sepertinya memang orang ini penyebabnya dia berubah. Aku menjawab, "enggak, dengan siapa saya bicara?"

Lalu, cowok itu memberikan hp ke dia, yang coba aku hubungi selama ini. Aku kaget dengan pernyataannya, ternyata yang tadi adalah PACARNYA! Seketika aku bingung, cepat sekali dia bergandengan dengan cowok lain. Aku pun tetap tenang menjawab seadanya, dan mohon maaf, lalu berpamitan, menutup telponku.

Kenapa? Kenapa dia gak jujur saja dari awal kalau dia dekat dengan cowok lain selain aku? Apa karena jaga perasaan? Ataukah memang dari awal dia mau diajak jalan itu hanya kasian denganku? Entahlah, aku tak tahu alasan yang sebenarnya. Aku pun tak punya lagi keberanian untuk bertanya, rasanya sudah dikecewakan, dibohongi, merasa sangat bodoh sekali karena terlalu cepat menilai, kalau dia pun merasakan perasaan yang sama denganku.

Januari ini, yang seharusnya menjadi bulan yang spesial karena bertepatan juga dengan bulan ulang tahunku, ternodai dengan perasaan kecewa yang teramat sangat. Untung saja aku belum mengutarakan niatku untuk serius dengannya, kalau sudah, mungkin akan lebih kecewa lagi.

0 Response to "Januari 2019, permulaan yang buruk"

Posting Komentar