Januari 2019, permulaan yang buruk (pt. 2)
By Rizki Hardi , Kamis, 10 Januari 2019 10:19:00 PM
...
Untung saja aku belum mengutarakan niatku untuk serius dengannya, kalau sudah, mungkin akan lebih kecewa lagi.
...
Meskipun begitu, terkadang aku masih terbayang kebersamaan bersamanya sebelum hal itu terjadi. Mengingat setiap menit kebersamaan kita, walaupun hanya sebentar, setiap kita bertemu selalu membuatku senang, kamu pun begitu. Janji, aku pernah berjanji padamu, setiap pertemuan kita, aku akan membelikanmu makanan kesukaanmu. Es krim, itu yang aku janjikan kepadamu. Kamu pun senang, dan aku wujudkan ketika bertemu. Aku sedikit iseng dengan membelikanmu 2 gelas es krim sekaligus, dan aku bilang ke kamu harus habiskan semua, dengan nada bercanda. Kamu pun tertawa manis, walau aku tau kamu agak sebal dengan ulahku itu, tetap saja kamu iyakan.
Kamu pernah ngambek ke aku, hanya karena masalah yg kecil. Aku meminta maaf, dan memberikan sedikit "sogokan" akan membelikan es krim lagi ketika kita bertemu lagi. Kamu langsung minta 7 ke aku dan aku mengiyakan asal kamu gak ngambek lagi. Sungguh sangat menyebalkan, namun aku tetap senang, karena setelah itu, kamu kembali tersenyum ceria.
Tapi itu hanya janji yang tidak mungkin ditepati lagi, karena sekarang kamu pun menjauh, pergi bersama dia yang kamu pilih. Janji, hanya tinggal janji.
Aku bercerita tentang kita kepada sahabatku. Dia malah tertawa, ya memang kejadian itu lucu sekaligus membingungkan dan mengecewakan, aku akui. Walau begitu, hanya dialah yang bersedia mendengarkan ceritaku setelah kedua orangtuaku, beruntungnya diriku.
Dia bilang, bahwa artinya dia bukan yang terbaik buat kamu, santai saja, karena ketika sudah waktunya pun, kamu akan menemukan jodohmu. Aku mengiyakan, walaupun berat. Setidaknya aku terus berfikir, karena sebelumnya juga ortuku mengatakan hal yang sama. Roda kehidupan kadang memang seperti itu, kamu harus sabar, itulah yang ada di pikiranku sekarang.
Kekecewaan, kesedihan, penyesalan, semua perlahan aku olah menjadi semangat, sabar dan berfikir positif kembali. Yah, walaupun sedikit waktu, bayangan tentang kebersamaan kita itu terlintas, tapi aku tidak akan terus menyesalinya, karena walaupun kamu sudah mengecewakan, tidak bisa mengalahkan kebahagiaan ketika kita masih berdekatan.
Kamu sudah berjalan kedepan dengan pacarmu sekarang. Aku juga, berjalan kedepan, tapi tidak sendiri. Dibelakangku ada kedua orangtuaku, adikku, sahabatku dan rekan-rekanku yang selalu memberikanku semangat. Kita bersama-sama sudah melangkah ke jalan kita masing-masing.
Kalaupun nanti kita dipertemukan kembali, dengan kondisi sedih maupun senang. Aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Karena aku mulai sekarang akan berusaha ikhlas atas semuanya. Demi kebahagiaan kita.
Januari, terima kasih. Walau ini awal yang buruk, aku akan tetap bangkit, berdiri, berjalan, lalu berlari.
(End)


Posting Komentar