Menikmati Penyesalan

By Rizki Hardi , Jumat, 03 Agustus 2018 9:05:00 PM

Penyesalan itu sesuatu hal yang sangat tidak enak. Biasanya terjadi karena kita telah mengambil keputusan namun ketika menjalankannya, banyak hal yg membuat kita tidak nyaman, kecewa bahkan sedih. Pada akhirnya, semua dihentikan dan timbul rasa penyesalan.

Menyesal, selalu datang terlambat.
Itu sangat benar. Tak pernah ada penyesalan yg ada di awal.

Pengalaman pribadi, saya seringkali kecewa dengan apa yg saya lakukan, perihal yg besar maupun yg ecek-ecek atau kecil. Banyak, mungkin saja gak terhingga.

Seperti halnya ketika saya memutuskan untuk berpacaran semasa kuliah, dengan seorang wanita, yang memang saya akui saya jatuh hati sama dia, namanya saya sembunyikan, namun saya kasih inisial RA. Ternyata, ekspektasi yg saya bayangkan ketika pacaran berbeda jauh dengan yang saya alami, semua tidak berjalan baik walau awalnya asik.

Saya menyesal, selain karena saya tidak bisa seperti laki-laki lain lakukan kepada wanita yg menjadi pacarnya, juga saya menyesal kenapa saya harus buru-buru berpacaran dengannya, apalagi dengan akhir yang saya anggap "menggantung", karena masing-masing dari kami tidak mau lagi membahas hal yang "menggantung" itu secara langsung.

Bahkan saya sempat berpikir, seandainya dulu saya lebih sabar, lebih pengertian, lebih perhatian, dan lebih lainnya yg bikin dia senang, mungkin tidak akan jadi seperti saat ini.
Tapi waktu gak akan berputar kebelakang, yg tersisa hanya penyesalan.

Setelahnya, banyak penyesalan" lain yg menyertai, seperti ketika dianggap menggantungkan hati seorang wanita hanya karena saya "terlalu baik" sama dia. Ketika itu, saya baru saja putus dari si RA, dan mencoba untuk tidak berniat lagi mencari pacar baru.

Selain itu ketika sudah lulus, berkenalan dengan seorang wanita, inisialnya W, yang tinggalnya jauh dari tempat tinggal saya, dia di bogor, saya di cirebon. Hanya menjalin komunikasi tanpa sempat bertemu.

Saya katakan tanpa sempat bertemu, karena setelah saya berusaha untuk dapat izin ketemu dia dan akhirnya berhasil, dia udah nyerah dan akhirnya menjauh, memilih yang selalu ada didekatnya, yaitu teman kerjanya sendiri. Kembali menyesal, karena gagal memperjuangkan.

--------------

Tapi kenapa harus "menikmati"? Bukankah penyesalan itu gaenak dan kesannya seperti orang bodoh?
Ya, umumnya. Tapi setelah saya merenung, sepertinya saya bisa paham untuk apa penyesalan harus kamu alami.

Dibalik penyesalan, tentu ada poin penting yang sangat baik untuk kita kedepannya. Seperti halnya saya menyesal kenapa gak jadi laki-laki yg pengertian, sabar, perhatian kepada wanita yg ia pilih menjadi pacarnya. Saya membayangkan kalau saya dulu merubah sikap saya, mungkin sampai sekarang saya masih bersama dia.

Namun saya menikmati penyesalan itu, karena saya belajar, selain saya harus merubah sikap, sesuatu yg dimulai dengan terburu buru akan menghasilkan sesuatu yg mentah. Saya telan bulat" penyesalan itu sembari menikmati "khasiat" yg tersembunyi dibaliknya.

Saya pun menikmati penyesalan yg kedua, tidak semua orang mau berpikir baik dengan niat baik yg kita lakukan. Niat baik menjadi orang baik disalah artikan sebagai "modus". Saya pun menelan bulat-bulat penyesalan itu.

Terlebih yang ketiga, terkadang perjuangan itu gak melulu membuahkan hasil manis, mungkin juga hasilnya pahit, terlebih ketika kamu memperjuangkan yg memang bukan yg benar-benar harus kamu perjuangkan dimata Sang Pemilik Hati. Siapa tau dia hanya "yang kebetulan lewat" untuk mengasah jiwa pejuang kamu sebagai bekal ketika nanti dipertemukan dengan "yg sebenarnya kamu harus perjuangkan".
Dan lain sebagainya.

--------------

Memang, tidak ada yg mau mengalami penyesalan dalam keputusan yg diambilnya. Tapi ketika terjadi, tak perlulah kita gusar, gundah sampai galau akut. Cobalah nikmati penyesalan itu, pasti akan ada obat mujarab didalamnya yg bisa bikin kamu berevolusi jadi manusia yg lebih baik.

Cirebon, Agustus '18

Yang sedang menikmati penyesalan
Rizki H.

0 Response to "Menikmati Penyesalan "

Posting Komentar