Attitude dan No. 1

By Rizki Hardi , Sabtu, 26 Oktober 2013 12:27:00 AM

             Wah, senin? Beneran nih hari senin sekarang? Perasaan baru kemarin aku menikmati waktu santai, sekarang sudah kembali ke dalam rutinitas kampus. Yah, biasalah mahasiswa, selalu mengerjakan rutinitas kampus yang sama: kuliah, praktikum, dan tugas. Kehidupanku yang sekarang bukan lagi belajar, kumpul bareng teman – teman, lalu pulang ke rumah seperti zaman SMA dulu. Yap, sudah 1 tahun lebih aku mengikuti rutinitas seperti ini: kuliah dengan perut terisi angin karena gak sempat sarapan akibat belum ada warung makan yang buka jam 7 pagi, lalu praktikum yang banyaknya tidak terkira, serta tugas individu atau kelompok dari dosen yang banyaknya tidak bisa diduga. Kegiatan akademik di perguruan tinggi kurang lebihnya seperti ini, dan aku sudah mengalami beberapa kali titik jenuh dalam melakukan kegiatan yang telah menjadi suatu kebiasaan kampus sendiri.


        Aku berangkat ke kampus. Dan seperti biasanya, suasana begitu dingin. Aku memang bukan mahasiswa yang terkenal, aku hanya mahasiswa biasa saja. Tidak heran kalau suasana dingin di kampus sangat terasa untukku. Menurut pengamatanku, memang ada 3 cara untuk seseorang bisa menjadi seseorang yang dapat dikenal oleh masyarakat kampus. Tiga cara tersebut adalah menjadi seseorang yang cerdas, bermateri berlimpah atau nakal senakal-nakalnya. Ketika kamu cerdas, banyak yang akan mencarimu, termasuk dosen untuk diminta bantuan. Sehingga kamu akan dikenal oleh teman – teman maupun dosen. Ketika kamu berasal dari keluarga bermateri berlimpah dan kamu punya barang – barang mewah, kamu akan selalu jadi pusat perhatian, terutama cewek – cewek yang mendambakan cowok yang punya tunggangan keren dan sporty. Dan terakhir, ketika kamu menjadi nakal, teman – teman akan mengingatmu dan membicarakanmu di belakang kamu, sehingga mereka akan terus mengingatmu, terutama kenakalanmu.

             Ah, nomor 1 memang banyak manfaatnya. Tidak ada yang begitu menyoroti orang nomor 2, apalagi nomor 3, 4, 5 dan seterusnya. Mereka akan selalu mengenal nomor satu, entah itu nomor satu dalam bidang apa, yang jelas ketika kamu menjadi nomor satu, maka saat itulah kamu dikenal dan jadi pusat perhatian.

“Hary, mau kemana kamu? Ayo kita kumpul, bikin tugas kelompok untuk lusa nanti.”, panggil Edy, temanku yang berasal dari Kebumen.

                “sebentar, aku mau bertemu pak Udin dulu. Mau konsultasi masalah akademik.”, jawabku.

                “Kamu lupa ya? Pak Udin kan lagi keluar kota, ikut seminar nasional.”, kata Edy.

Aku benar – benar lupa akan hal itu, aku terlalu fokus untuk konsultasi masalah akademik ke dosen tersebut. 

“waduh, yaudah ayo kerjain deh.”, jelasku sambil mengambil catatan dan laptop yang selalu menjadi partner setiaku.

Kami memulai mengerjakan tugas kelompok dari mata kuliah Elektronika, salah satu mata kuliah yang paling saya kurang suka.

                “oh iya Di, kamu tau ga si Jody kemana?”, tanyaku sambil tetap mengerjakan soal tugas.

                “ah, aku ga tau dia kemana. Tapi katanya dia jadi asisten praktikum gitu.”, jawab Edy.

                “Yah, jadi kita lagi yang menyelesaikan ini tugas.”, keluhku.

Jody memang mahasiswa yang pintar, dia selalu mendapatkan IP diatas 3. Dibandingkan dengan aku yang hanya memperoleh IP selama 2 semester awal itu 2,7 dan pada semester 3 kemarin mendapatkan IP 2,9 , tidak ada apa – apanya. Tapi sayang, aku kurang begitu suka dengan sikapnya. Egoisnya sangat tinggi, mungkin tingginya melebihi monas. Tak dapat dipungkiri kalau banyak teman – teman yang berhati – hati dalam bersikap dengan dia. Karena dia tipe orang yang susah diajak bercanda, tapi ketika dia bercanda malah heboh sendiri, padahal ga ada lucu – lucunya. Selain itu, hal yang paling buat aku ga suka sama sikapnya adalah caranya memandang orang lain. Dia terkesan meremehkan ketika dia lebih tinggi dari orang lain dalam hal apapun.

Kami melanjutkan membuat tugas.

“aduh, aku lupa ngasih tau Indri lho.”, celotehku.

“nah lho, dia pasti ngambek tuh. Udah 2 kali lho kayak gitu.”, kata Edy menakut – nakutiku.

Indri memang salah satu anggota kelompok kami dalam membuat tugas kali ini. Dia tipe orang yang mau diajak kerjasama, tapi sayangnya dia sensitif. Ketika dia merasa diacuhkan, ketika itu pula dia langsung ngambek seharian.

            Aku langsung menghubungi Indri. Dan benar saja, dia ngambek karena tidak diberi tahu sebelumnya. Aku meminta maaf ke dia, untungnya dimaafkan dan dia tetap mau datang dan ikut mengerjakan tugas kelompok.
“Har, lain kali jangan lupain aku dong. Aku kan pengen berkontribusi juga, pengen belajar juga, ok?”, kata Indri, aku tersenyum sambil mengangguk.
            Beruntung, aku masih mempunyai teman – teman yang mau menerima aku apa adanya. Mereka selalu mensupport aku dan teman lainnya. Apalagi Indri, yang selama ini menjadi teman curhatku. Edy, meskipun dia tipe orang yang cuek, tapi dia peduli dengan temannya dan siap menjadi teman yang baik dikala suka maupun duka. Tentunya aku pun harus menyeimbangkan diri dengan mereka, dan itu tidak buruk untukku.

             Jaman sekarang memang persaingan sangat keras. Banyak orang yang melakukan cara “dianggap benar” untuk mewujudkan mimpinya. Terutama untuk mendapatkan IP bagus, bahkan sampai mengorbankan temannya sendiri. Sungguh egois kalau aku bilang, kasihan dengan yang sudah berusaha keras untuk meraih mimpinya, hancur karena keegoisan orang tersebut.

          IP (indeks prestasi), menjadi sebuah primadona bagi orang – orang yang (katanya) ingin meraih kesuksesan. Tapi aku merasa bukan IP yang utama harus dikejar, tapi ilmunya. Karena percuma saja ketika IP bagus tapi kita tidak paham dengan ilmu yang kita dapatkan selama ini. Tapi mindset teman – teman ternyata tidak sama dengan mindset aku. Alhasil, banyak mahasiswa yang hanya besar di IP tapi tidak ada isinya, dengan bukti ketika ditanya oleh orang luar lingkungan kampus mengenai ilmu di bidang yang dia pilih, dia tidak mengerti.

“Edy, aku sudah selesai dengan bagianku. Sekarang kamu tinggal salin ulang di Word.”, kataku sambil berdiri.

“eh, emang kamu mau kemana?”, tanya Edy

“sebentar, aku mau beli minuman, haus.”, jawabku.

“eh aku nitip ya, beliin gorengan, hehe.”, sambung Indri.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk, lalu pergi meninggalkan mereka menuju kantin.
Sesampainya disana, aku terkejut. 

“Jody, kamu katanya lagi jadi asisten, kok disini?”, tanyaku pada Jody.

“Lho emang kenapa Har?”, jawab Jody.

“ya aku tanya, kok kamu ga mendampingi praktikan?”, tanyaku lagi dengan nada sedikit ketus.

“emang kenapaa? Kok aku harus kasih tau kamu?”, jawabnya lagi sambil menikmati makanannya.

“oke, aku jawab nih ya. Kita kan sekelompok untuk tugas Elektronika. Dan kata Edy, kamu lagi mengurus praktikum mendampingi para praktikan. Tapi kok kamu ada disini?”, jawabku lagi mulai kesal.

“lho suka – suka dong, aku lagi istirahat dulu, capek tau jadi asisten, belum merasakan sih! Lagipula kan kelompok anggotanya bukan cuma kamu sama aku aja, yang lain dong!”, jawab Jody dengan nada ketus.

Aku langsung berbalik sambil mengelus dada dengan sikap Jody yang seperti itu. “apa setiap orang pintar sikapnya seperti ini ya?”, tanyaku dalam hati.

Aku kembali ke tempat teman – teman kelompokku dengan tidak membawa minuman maupun pesanan yang Indri pesan tadi.

“Har, kenapa? Kehabisan duit apa?”, celoteh Edi. Indri langsung melihatku dan tertawa. 
“enggak, cuma aku tiba – tiba badmood aja nih pas tadi di kantin.”, jelasku kepada mereka sambil duduk bersandar tembok.

                Edy dan Indri langsung terdiam, mereka seakan penasaran dengan apa yang terjadi di kantin. Aku mulai menjelaskan setelah Indri bertanya kepadaku, dan Edy pun mendengarkannya. Sambil mengelus dada, Edy menggelengkan kepalanya tanda kecewa karena sikap Jody yang seperti demikian.

“sudahlah kawan, jangan diambil hati. Toh kita pun masih bisa menyelesaikan tugas ini bersama – sama tanpa dia.”, kata Edy sambil berusaha menenangkanku. 
“Iya, makasih Di. Oke deh, terus gimana tugasnya? Udah disalin lagi?”, tanyaku pada Edy. 
“Oh jelas! Siapa dulu yang mengerjakan, hahaha.”, kata Edy sembari tertawa.

              Aku senang karena masih ada orang yang seperti Indri dan Edy. Mereka setidaknya tidak membuat sakit hati dengan ucapan mereka, alias masih menjaga ucapan mereka. Dan aku semakin bertanya – tanya, apakah yang menyebabkan seseorang berubah itu ketika orang tersebut lebih tinggi dari kita? Sungguh sangat disayangkan.

           Hari Rabu, saatnya mengumpulkan tugas. Kebetulan tugas dipegang oleh Edy, dan ternyata dia datang terlambat. Aku bertanya kepada Indri tentang Edy, tapi Indri pun tidak tahu kenapa Edy terlambat datang. Apalagi kuliah akan segera dimulai, kalau belum mengumpulkan tugas, mungkin saja nantinya kita mendapat nilai minus dalam mata kuliah ini, maklum lah yang memberi materi kuliah itu dosen killer.
“Sekarang kumpulkan tugasnya, setelah jam kuliah saya tidak mau menerima lagi tugas kalian apapun alasannya.”, ujar dosen tersebut.
         Waduh, bahaya nih. Aku mulai tidak tenang, karena Edy tidak kunjung datang. Sementara kuliah sudah dimulai dari 10 menit yang lalu. Apakah dia sakit? Atau kesiangan? Aku belum tau pasti. Karena tidak biasanya dia seperti ini, biasanya dia tepat waktu.

            Jody melihat kearahku dengan tatapan sinis. Sepertinya dia mau marah karena tugas kami belum juga dikumpulkan. Indri mencoba menenangkanku, begitu pula Sony, salah satu temanku yang kebetulan aku dan dia tinggal di kost yang sama.

“Har, si Jody kok ngeliatin kamu gitu amat ya? Emang kamu ada salah sama dia?”, tanya Sony.

“Aku gak merasa ada salah apa – apa lho, ga tau kenapa tuh anak. Mungkin masih marah karena aku tegur kemarin.”, jawabku sambil melanjutkan menulis materi.

Edy belum juga datang, apa dia memang sengaja gak masuk? Ah dia bukan orang yang kaya gitu, gak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya. Tapi ini sudah lewat setengah jam dari dimulainya kuliah ini, aku terus merasa was – was dengan hal ini.

Kuliah selesai, dan Edy pun tidak menunjukkan rupanya. “waduh, kita jadi ga bisa ngumpulin tugas deh, gimana dong?”, tanya Indri. “Yah mau gimana lagi, mungkin Edy sakit jadi dia ga bisa kuliah hari ini, dan kebetulan juga tugas kita dipegang dia.”, jawabku dengan tenang.

“Hari!!! Kamu gimana sih? Kita belum ngumpulin tugas nih, kamu malah tenang – tenang aja!”, Jody menyambar bagaikan api melahap kayu bakar.

“kamu yang gimana! Dimana pas kita ngerjain tugas bareng – bareng???”, Indri membalas.

“Sorry In, ini urusanku sama Hari, kamu jangan ikut campur!”, bentak Jody.

“Heh! Ngapain kamu bentak Indri! Nyadar diri sedikit kenapa??? Kemarin kemana kamu ga ikut buat tugas, hah!”, aku marah sambil mengepalkan tangan.

“ah, kamu itu ga ngerti Har. Kamu kan ketuanya, harusnya tanggung jawab dong dengan semua ini, malah kamu menyalahkan aku!”, Jody menimpali.

Aku terdiam, malas untuk membalas apa yang dia ucapkan tadi. “nah kan, kenapa diam? Benar kan yang aku bilang? Kamu yang salah!”, tegas Jody, lalu pergi meninggalkan kami bertiga.

Aku benar – benar kesal dengan apa yang dia ucapkan kepadaku. Sangat buruk, tidak mencerminkan orang yang punya ilmu tinggi. Aku sangat kesal dengan dia, sampai – sampai ingin sekali meninju mukanya yang sangat menyebalkan seperti tadi. “sudahlah kawan, biarkan orang seperti itu sih. Cuma bikin nambah dosa aja.”, ujar Sony menenangkanku.

Tiba – tiba Edy menelponku.

“Di, kemana aja kamu? Kenapa tadi ga masuk kuliah?”, tanyaku kepada Edy yang kedengarannya sedang tertawa geli.

“ciyee, kangen ya har? Hahaha, aku kebetulan ada urusan tadi, penting banget. Makanya aku tadi ga ikutan kuliah.”, jawab Edy sambil tertawa geli.

“heh, kamu ketawa mulu, ada apaan sih?”, tanyaku balik.

“Aku cuma lucu aja liat muka panik kamu, hahaha.”, kata Edy.

Liat? Jangan – jangan dia disini? Dan benar saja, Edy sedang duduk di bawah pohon sekitar lapangan kampus. “Aku ga bisa nahan ketawa daritadi, kalian berdua lucu.”, kata Edy sambil menahan tawanya. 

“lho? Kok malah senang sih, parah nih.”, aku menanggapi.

“aku padahal udah ngumpulin tugasnya kemarin lho. Tapi sengaja ga ngasih tau kalian, biar surprise, hahaha.”, jawab Edy.

Edy berhasil mengerjaiku dan Jody, yah sangat bisa diandalkan deh si Edy, aku pun berterima kasih kepadanya dan pulang bersama.

“lalu, itu gimana si Jody?”, tanya Sony.

“ya ga gimana – gimana, orang dia sendiri yang kelewat emosi duluan ga mau tau situasinya dulu.”, jawabnya masih menahan tawa. Ternyata Edy diam – diam bertemu dengan dosen pengampu mata kuliah dan mengumpulkan tugasnya. Selain itu, dia juga bilang bahwa ada 1 orang yang tidak ikut berpartisipasi dalam pembuatannya, yaitu Jody. Pada akhirnya Jody dipanggil dosen pengampu mata kuliah Elektronika dan diperingatkan untuk tidak terlalu meremehkan sebuah pekerjaan dan orang lain.

“setidaknya, semoga dia sadar dengan attitude-nya selama ini, dan menjadi orang yang lebih baik.”, kataku dalam hati. Kemudian kami berempat pun pulang ke tempat peristirahatan masing – masing.



 Rizki Hardi_A1H011010
Di suatu ruangan yang disebut kamar.

0 Response to "Attitude dan No. 1"

Posting Komentar