Bodoh atau Pembohong
By Rizki Hardi , Rabu, 19 Desember 2012 12:17:00 PM
Di dunia ini, berbagai macam manusia hidup bersama. Berbagai macam bentuk kehidupan pula yang akan dilalui disini, entah itu hidup sejahtera, foya-foya, atau jauh dari kata bahagia.
Setiap langkah kita dalam hidup pula dihiasi dengan berbagai macam sifat dan sikap yang terkadang benar dan terkadang salah.
Inilah kehidupan, terkadang tak seperti impian kita.
Dalam impian, hidup enak, berlimpah harta, punya kemampuan istimewa, terutama dalam hal akademik dan skill dalam meningkatkan pergaulan dengan sesama.
Tapi kenyataannya, dilahirkan dari keluarga sederhana, kemampuan akademik pas-pasan, dan skill pun sangat kurang yang berakibat susah bergaul.
Terus terang, itulah saya. Saya sekarang seorang mahasiswa yang bisa dibilang biasa saja, atau mungkin mendekati bodoh.
Boleh dibilang, saya ini dimata teman - teman adalah mahasiswa dan teman yang biasa - biasa saja, namun dari saya sendiri merasa saya masih sangat bodoh dibandingkan dengan teman - teman saya yang lainnya.
Lihat saja, ketika teman - teman saya bisa menangkap apa yang disampaikan oleh dosen, saya hanya termenung dan tidak tahu apa yang sedang dijelaskan. Ketika teman - teman saya bahagia karena mendapatkan nilai bagus, saya hanya tercengang dan langsung ngedrop ketika nilai saya jelek. Ketika teman - teman saya dengan leluasa pergi kemanapun dia mau, saya harus berpikir dulu untuk melakukan hal itu.
Dan terakhir, saya lupa (entah lupa atau sengaja lupa), saya kecanduan mencontek pekerjaan teman disaat yang lain bisa menjadi dirinya sendiri dan yakin akan kemampuan sendiri untuk bisa menjawab soal - soal suatu tugas atau ulangan atau apalah itu, terutama ujian.
Yah, karena saya tidak yakin dengan kemampuan saya sendiri, jadinya ya begini.
Lebay memang sikap saya ini, mengesankan saya ini lemah dan belum siap menghadapi dunia yang keras ini.
Tapi memang itulah kenyataan pada saya sampai saat ini.
Tapi memang itulah kenyataan pada saya sampai saat ini.
Kejujuran, ya itu yang harusnya jadi bekal saya ketika pertama kali menduduki bangku kuliah. Sejak dari tes penerimaan mahasiswa baru, saya diberi bekal oleh orang tua untuk jujur dan percaya diri. Saya menerapkan itu semua dan alhamdulillah saya berhasil menjadi seorang mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Tapi entah kenapa ketika saya berkuliah disini, rasa percaya diri saya hilang begitu saja. Saya tidak paham apa yang terjadi dengan diri saya.
Ditambah lagi, demi meningkatkan kualitas nilai saya ketika kuliah, saya mengorbankan sebuah hal yang sangat penting, yaitu kejujuran.
Ketika kejujuran saya hilang, ternyata saya menyadari kembali saya makin bodoh dan ditambah lagi saya sudah menjadi seorang pembohong.
Mengenaskan sekali saya, tapi inilah kehidupan. Penyesalan selalu datang terlambat, dan lebih baik menyesal namun berusaha untuk tidak mengulanginya lagi ketimbang tidak menyesal sama sekali.
Bila dibandingkan dengan sebuah kebodohan, kebohongan lebih menyakitkan.
Hidup tidak akan tenang, bahkan untuk berkata jujur pun seorang pembohong harus meminta izin terlebih dahulu. Sedangkan orang bodoh, mereka memang terlihat sangat tidak mengerti tentang apapun, namun mereka menjalani hidup mereka apa adanya, tidak mengada-ada dan tidak memaksakan diri untuk meraih kesuksesan, yang mereka tahu menjalani hidup sesuai panggilan hati mereka, dan mereka juga percaya hidup bahagia tidak harus dengan harta. Bukan berarti mereka tidak ada usaha untuk meraih harta, namun setidaknya mereka lebih punya peluang dalam melaksanakan kejujuran dalam hidupnya dibandingkan orang diluar sana yang selalu menghalalkan segala cara untuk meraih harta dan jabatan.
Rasa malas yang pertama kali membuat kita mengabaikan kejujuran. Malas belajar, berakibat mencontek. Malas bekerja keras berakibat kecurangan dalam bekerja (salah satunya korupsi). Sedangkan untuk sebuah kebodohan, ketika mereka jujur dan berusaha, berakibat hidup bahagia sejahtera.
Orang bodoh yang tidak mau mengakui dirinya bodoh pun sama, berakibat hidupnya tidak tenang.
Dan sayangnya saya termasuk orang bodoh yang tidak mau mengakui dirinya bodoh, sehingga saya sudah membohongi diri saya sendiri.
Saya ingin menjadi orang bodoh yang mengakui kalau saya bodoh ketimbang menjadi orang jenius hasil dari kebohongan yang dibuat selama ini.
Dan saya lebih menginginkan bodoh dalam membuka sebuah kebohongan ketimbang pintar untuk menutupi sebuah kejujuran.
Semoga saya bisa menjadi orang yang seperti itu... ammmmiiiinnn
By : Rizki Hardi
Mahasiswa bodoh yang belum bisa lepas dari kebodohan untuk berbuat jujur


Posting Komentar