Bodoh itu Jujur (sebuah cerita pendek)
By Rizki Hardi , Rabu, 19 Desember 2012 4:44:00 PM
Hey kawan, saya Udin, seorang siswa SMA yang kurang terkenal di kota Y. Saya laki-laki berumur 16 tahun dan belum punya pacar, hehehehe sekalian promosi jadinya nih.
Saya punya teman bernama Rudi, dia orangnya slengean, pemalas juga namun dia tidak pernah berbohong.
Kami berdua sangat dekat, sebagai temannya yang baik sebenarnya saya cukup prihatin dengan Rudi, dia terlalu jujur sehingga banyak yang menjauhinya karena itu. Namun di sisi lain, saya bangga kepadanya karena dia termasuk orang yang tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, karena walau dia jujur namun dia tahu situasi dan kondisi. Jadi, ketika dia melihat temannya yang sedang melakukan sesuatu dan melakukan hal yang memalukan namun tidak ada yang tahu selain dia dan orang tersebut dan keadaan sedang ramai-ramainya, dia hanya memberi kode kepada orang tersebut bahwa dia melakukan sebuah kesalahan memalukan, sehingga tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali mereka berdua.
Namun, terkadang Rudi juga menjadi sasaran kejahilan teman-temannya yang suka "lempar batu sembunyi tangan". Pernah suatu ketika, dia sedang membeli jajanan untuk dirinya, lalu disebelahnya mengambil jajanan tanpa membayar, lalu penjualnya menyadari dan hendak memarahi anak tersebut, tapi terlambat, dia sudah keburu lari duluan dan meninggalkan Rudi disana. Alhasil, Rudi yang kena marah karena dianggap salah satu dari mereka, walau Rudi sudah berkata jujur, namun apa daya si penjual sudah kepalang marah dan emosi berat, jadi Rudi lah yang harus membayar semua jajanan mereka.
Oke itu sedikit ceritaku tentang Rudi, temanku yang jujur namun nasibnya terkadang tidak beruntung.
Sekarang saya mau bercerita lagi tentang kehidupan saya sehari hari, dan salah satu pengalaman yang mungkin paling berkesan diantara semuanya.
Ketika bel sekolah berbunyi, teman-teman kelas saya berebutan masuk ke dalam kelas. Saya yang waktu itu terlambat datang merasa heran kenapa dengan wajah-wajah mereka yang penuh ketegangan. Ternyata ada pengumuman bahwa akan diadakan Ujian mendadak sekitar 2 jam lagi!
Wah sial, saya belum belajar. Saya ikutan tegang dan keringat dingin bercucuran mengalir dari pori-pori kulit saya...
Terlihat Rudi malah sangat santai menanggapi hal tersebut, saya bertanya kepadanya dan dia hanya menjawab bahwa dia sudah menyadari kalau akan ada ujian mendadak walau dia sendiri belum ada persiapan sama sekali.
Akhirnya ujian dimulai, semuanya gelisah. Keadaan ruang kelas menjadi horror dan auranya penuh dengan ketakutan akan mendapat nilai jelek. Banyak teman - teman saya yang tengok kanan dan kiri, kecuali Rudi yang santai membaca soalnya dan sedikit kebingungan, namun dia tidak tertarik sama sekali dengan bisikan untuk mencontek, entah kenapa.
Akhirnya ujian selesai, kami merasa tegang dengan hasil yang akan didapat nantinya. Seperti biasa sebelum istirahat, pelajaran ditutup dengan mengucapkan "alhamdulillah" dan berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing"
Ketika istirahat, aku mengobrol dengan Rudi, kami membahas tentang ujian tadi.
"Rud, kamu tenang banget waktu ujian, padahal katanya ga ada persiapan?" tanyaku,
"Hehe, aku memang ga ada persiapan, tapi bukan berarti aku harus ketakutan juga kan? aku masih sedikit inget dengan pelajaran yang waktu itu disampaikan, jadi aku ngerjain semampunya saja" kata Rudi.
Rudi juga bilang dia menyerahkan semua hasil kerjanya kepada Allah swt. dan dia tahu keputusan-Nya yang terbaik untuk dirinya.
Satu minggu berlalu, pengumuman nilai pun dipampang di majalah dinding sekolah dekat ruang guru. Alangkah kagetnya saya, ternyata Rudi mendapat nilai yang fantastis! Nilai tertinggi dari yang lain.
Saya langsung mencari Rudi dan mengucapkan selamat, serta bertanya kepadanya kenapa bisa padahal dia bilang ga ada persiapan, dan saya percaya dia ga bohong, karena bukan kebiasaannya. Dia hanya bilang kalau dia setelah ujian rajin berdoa supaya tidak menjadi yang paling memalukan ketika hasilnya sudah ada.
Saya salut kepadanya, banyak teman - teman yang menganggapnya bodoh, namun hebatnya dia bisa mendapatkan hasil yang luar biasa.
Mungkin aku menangkap yang teman - teman maksud bodoh itu adalah cara dia untuk selalu jujur dalam setiap keadaan yang ada, jadi kesimpulannya bodoh itu jujur.
Itu sepenggal cerita saya tentang Rudi yang sangat jujur dalam kondisi apapun. Dan buah kejujurannya ternyata sangatlah manis, pelajaran yang dapat diambil adalah berusahalah untuk jujur, terutama kepada diri sendiri, niscaya kejujuran tersebut akan melahirkan sesuatu yang indah nantinya...
Saya punya teman bernama Rudi, dia orangnya slengean, pemalas juga namun dia tidak pernah berbohong.
Kami berdua sangat dekat, sebagai temannya yang baik sebenarnya saya cukup prihatin dengan Rudi, dia terlalu jujur sehingga banyak yang menjauhinya karena itu. Namun di sisi lain, saya bangga kepadanya karena dia termasuk orang yang tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, karena walau dia jujur namun dia tahu situasi dan kondisi. Jadi, ketika dia melihat temannya yang sedang melakukan sesuatu dan melakukan hal yang memalukan namun tidak ada yang tahu selain dia dan orang tersebut dan keadaan sedang ramai-ramainya, dia hanya memberi kode kepada orang tersebut bahwa dia melakukan sebuah kesalahan memalukan, sehingga tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali mereka berdua.
Namun, terkadang Rudi juga menjadi sasaran kejahilan teman-temannya yang suka "lempar batu sembunyi tangan". Pernah suatu ketika, dia sedang membeli jajanan untuk dirinya, lalu disebelahnya mengambil jajanan tanpa membayar, lalu penjualnya menyadari dan hendak memarahi anak tersebut, tapi terlambat, dia sudah keburu lari duluan dan meninggalkan Rudi disana. Alhasil, Rudi yang kena marah karena dianggap salah satu dari mereka, walau Rudi sudah berkata jujur, namun apa daya si penjual sudah kepalang marah dan emosi berat, jadi Rudi lah yang harus membayar semua jajanan mereka.
Oke itu sedikit ceritaku tentang Rudi, temanku yang jujur namun nasibnya terkadang tidak beruntung.
Sekarang saya mau bercerita lagi tentang kehidupan saya sehari hari, dan salah satu pengalaman yang mungkin paling berkesan diantara semuanya.
Ketika bel sekolah berbunyi, teman-teman kelas saya berebutan masuk ke dalam kelas. Saya yang waktu itu terlambat datang merasa heran kenapa dengan wajah-wajah mereka yang penuh ketegangan. Ternyata ada pengumuman bahwa akan diadakan Ujian mendadak sekitar 2 jam lagi!
Wah sial, saya belum belajar. Saya ikutan tegang dan keringat dingin bercucuran mengalir dari pori-pori kulit saya...
Terlihat Rudi malah sangat santai menanggapi hal tersebut, saya bertanya kepadanya dan dia hanya menjawab bahwa dia sudah menyadari kalau akan ada ujian mendadak walau dia sendiri belum ada persiapan sama sekali.
Akhirnya ujian dimulai, semuanya gelisah. Keadaan ruang kelas menjadi horror dan auranya penuh dengan ketakutan akan mendapat nilai jelek. Banyak teman - teman saya yang tengok kanan dan kiri, kecuali Rudi yang santai membaca soalnya dan sedikit kebingungan, namun dia tidak tertarik sama sekali dengan bisikan untuk mencontek, entah kenapa.
Akhirnya ujian selesai, kami merasa tegang dengan hasil yang akan didapat nantinya. Seperti biasa sebelum istirahat, pelajaran ditutup dengan mengucapkan "alhamdulillah" dan berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing"
Ketika istirahat, aku mengobrol dengan Rudi, kami membahas tentang ujian tadi.
"Rud, kamu tenang banget waktu ujian, padahal katanya ga ada persiapan?" tanyaku,
"Hehe, aku memang ga ada persiapan, tapi bukan berarti aku harus ketakutan juga kan? aku masih sedikit inget dengan pelajaran yang waktu itu disampaikan, jadi aku ngerjain semampunya saja" kata Rudi.
Rudi juga bilang dia menyerahkan semua hasil kerjanya kepada Allah swt. dan dia tahu keputusan-Nya yang terbaik untuk dirinya.
Satu minggu berlalu, pengumuman nilai pun dipampang di majalah dinding sekolah dekat ruang guru. Alangkah kagetnya saya, ternyata Rudi mendapat nilai yang fantastis! Nilai tertinggi dari yang lain.
Saya langsung mencari Rudi dan mengucapkan selamat, serta bertanya kepadanya kenapa bisa padahal dia bilang ga ada persiapan, dan saya percaya dia ga bohong, karena bukan kebiasaannya. Dia hanya bilang kalau dia setelah ujian rajin berdoa supaya tidak menjadi yang paling memalukan ketika hasilnya sudah ada.
Saya salut kepadanya, banyak teman - teman yang menganggapnya bodoh, namun hebatnya dia bisa mendapatkan hasil yang luar biasa.
Mungkin aku menangkap yang teman - teman maksud bodoh itu adalah cara dia untuk selalu jujur dalam setiap keadaan yang ada, jadi kesimpulannya bodoh itu jujur.
Itu sepenggal cerita saya tentang Rudi yang sangat jujur dalam kondisi apapun. Dan buah kejujurannya ternyata sangatlah manis, pelajaran yang dapat diambil adalah berusahalah untuk jujur, terutama kepada diri sendiri, niscaya kejujuran tersebut akan melahirkan sesuatu yang indah nantinya...


Posting Komentar