Anime bukan Kekanak-kanakan
By Rizki Hardi , Sabtu, 20 Oktober 2012 6:31:00 AM
Weeeh, waktunya nonton Dragon Ball nih, kira-kira goku bisa menang gak ya?
Hah? apa? Kekanak-kanakan?
Kata siapa? Kamu yang bilang?
Terus apa salahnya dengan nonton kartun, terutama kartun jepang/anime?
Ini pikiran-pikiran yang sering ada pada para penggemar anime/kartun jepang, mereka selalu merasa dipertanyakan kedewasaannya ketika menonton serial anime di televisi oleh orang lain.
Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang menganggap menonton anime itu kekanak-kanakan.
Jadi?
Oke begini penjelasannya.
Sebenarnya anime dibuat adalah sebagai hiburan dalam media elektronik, terutama televisi. Selain itu, anime telah lebih dulu tampil dalam bentuk komik atau dalam bentuk semacam cerita pendek dalam sebuah koran atau majalah. Anime sendiri pun ada bermacam-macam jenis genrenya, ada fantasy, ada family, ada juga serial anime yang khusus untuk dewasa dan biasanya tidak bebas tampil di layar kaca maupun beredar di masyarakat luas dalam bentuk komik atau apapun. Asyiknya dari menonton anime tersebut adalah, kita juga dapat terbawa fantasy yang dibuat oleh pengarang cerita serial anime, entah dari komik atau di media cetak.
Terus terang, saya mendukung adanya anime yang (tentunya) sangat ada manfaatnya untuk kita semua. Coba deh diresapi lagi, apabila kita menonton anime, apa yang dirasakan?
Ya benar, rasa senang dan dengan tidak langsung juga membangkitkan gairah imajinasi kita. Selain itu banyak nilai moral yang terkandung dalam serial anime tersebut. Contohnya saja anime pada tahun 2000-an yang pada masa itu menjadi favorit semua kalangan, Digimon. Memang kita lihat dan pikir secara logika itu mustahil, ada 7 anak yang hanya karena tersapu longsoran salju, lalu mereka tersesat di dunia bukan dunia mereka, dunia khayalan/dunia digital. Tapi apakah kalian menyadari, imajinasi kita terangsang ketika berpikir begitu. Selain itu, nilai-nilai moral lain, seperti persahabatan, kasih sayang, dan rela berkorban juga pantang menyerah rata-rata yang mendominasi nilai-nilai moral yang ada pada setiap serial anime yang ada tersebut. Oh iya, ada pula pelajaran yang didapat dengan menonton anime, bersosialisasi. Buat bahan bercandaan terutama, hahaha.
Namun, bukan berarti anime itu baik. Ternyata menonton anime pun ada negatifnya. Bagi maniak anime biasanya dapat menghabiskan waktu hanya untuk menonton anime saja, sedangkan masih banyak pekerjaan yang mereka lakukan namun mereka mengabaikan itu dikarenakan mendahulukan menonton anime. Selain itu, dengan menonton anime pun seringkali ingin menirukan style tokoh-tokoh anime yang ditonton. Contohnya Naruto, banyak yang ingin menirukan gayanya, dimulai dari rambut dibuat bergaya dan dicat semirip mungkin dengan tokoh-tokoh yang ada di serial Naruto, sampai - sampai ada yang rela memakai lensa mata seperti salah satu tokoh dalam serial Naruto. Itu upaya pemborosan namanya, dan bisa dibilang juga mereka tidak percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. Padahal dalam anime pun ada pesan moral yang menganjurkan kita menjadi diri kita sendiri, percaya dengan kemampuan kita sendiri. Walau hanya menyalurkan hobi, setidaknya tidak perlu sampai mengeluarkan dan menghabiskan uang yang kita punya.
Kalau saran saya seperti itu.
Jadi? Apa salahnya kita menonton anime? toh itu tontonan untuk semua kalangan kan?
Ngapain gengsi, kalo kata salah satu teman, anda gengsi maka anda ga akan bisa hidup
nah lho, hahahaha...
sekarang kita bisa menilai masing-masing, apakah anime kekanak-kanakan setelah tau beberapa efek baiknya, walaupun ada pula efek negatifnya.
Silahkan, itu pilihan anda untuk menilai hal tersebut.
Yang jelas, menurut saya lebih baik menonton anime daripada menonton sinetron yang ga jelas cerita juga nilai moralnya, justru kebanyakan malah merusak moral.
Oh iya satu lagi, saya pun disini tidak menyarankan untuk menonton anime, semua keputusan ada di diri anda sendiri, disini saya hanya memberikan gambaran sedikit mengenai anime.
sekian dan terima kasih :)
Rizki Hardi
Mahasiswa Teknik Pertanian dari Jurusan Teknologi Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Hah? apa? Kekanak-kanakan?
Kata siapa? Kamu yang bilang?
Terus apa salahnya dengan nonton kartun, terutama kartun jepang/anime?
Ini pikiran-pikiran yang sering ada pada para penggemar anime/kartun jepang, mereka selalu merasa dipertanyakan kedewasaannya ketika menonton serial anime di televisi oleh orang lain.
Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang menganggap menonton anime itu kekanak-kanakan.
Jadi?
Oke begini penjelasannya.
Sebenarnya anime dibuat adalah sebagai hiburan dalam media elektronik, terutama televisi. Selain itu, anime telah lebih dulu tampil dalam bentuk komik atau dalam bentuk semacam cerita pendek dalam sebuah koran atau majalah. Anime sendiri pun ada bermacam-macam jenis genrenya, ada fantasy, ada family, ada juga serial anime yang khusus untuk dewasa dan biasanya tidak bebas tampil di layar kaca maupun beredar di masyarakat luas dalam bentuk komik atau apapun. Asyiknya dari menonton anime tersebut adalah, kita juga dapat terbawa fantasy yang dibuat oleh pengarang cerita serial anime, entah dari komik atau di media cetak.
Terus terang, saya mendukung adanya anime yang (tentunya) sangat ada manfaatnya untuk kita semua. Coba deh diresapi lagi, apabila kita menonton anime, apa yang dirasakan?
Ya benar, rasa senang dan dengan tidak langsung juga membangkitkan gairah imajinasi kita. Selain itu banyak nilai moral yang terkandung dalam serial anime tersebut. Contohnya saja anime pada tahun 2000-an yang pada masa itu menjadi favorit semua kalangan, Digimon. Memang kita lihat dan pikir secara logika itu mustahil, ada 7 anak yang hanya karena tersapu longsoran salju, lalu mereka tersesat di dunia bukan dunia mereka, dunia khayalan/dunia digital. Tapi apakah kalian menyadari, imajinasi kita terangsang ketika berpikir begitu. Selain itu, nilai-nilai moral lain, seperti persahabatan, kasih sayang, dan rela berkorban juga pantang menyerah rata-rata yang mendominasi nilai-nilai moral yang ada pada setiap serial anime yang ada tersebut. Oh iya, ada pula pelajaran yang didapat dengan menonton anime, bersosialisasi. Buat bahan bercandaan terutama, hahaha.
Namun, bukan berarti anime itu baik. Ternyata menonton anime pun ada negatifnya. Bagi maniak anime biasanya dapat menghabiskan waktu hanya untuk menonton anime saja, sedangkan masih banyak pekerjaan yang mereka lakukan namun mereka mengabaikan itu dikarenakan mendahulukan menonton anime. Selain itu, dengan menonton anime pun seringkali ingin menirukan style tokoh-tokoh anime yang ditonton. Contohnya Naruto, banyak yang ingin menirukan gayanya, dimulai dari rambut dibuat bergaya dan dicat semirip mungkin dengan tokoh-tokoh yang ada di serial Naruto, sampai - sampai ada yang rela memakai lensa mata seperti salah satu tokoh dalam serial Naruto. Itu upaya pemborosan namanya, dan bisa dibilang juga mereka tidak percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. Padahal dalam anime pun ada pesan moral yang menganjurkan kita menjadi diri kita sendiri, percaya dengan kemampuan kita sendiri. Walau hanya menyalurkan hobi, setidaknya tidak perlu sampai mengeluarkan dan menghabiskan uang yang kita punya.
Kalau saran saya seperti itu.
Jadi? Apa salahnya kita menonton anime? toh itu tontonan untuk semua kalangan kan?
Ngapain gengsi, kalo kata salah satu teman, anda gengsi maka anda ga akan bisa hidup
nah lho, hahahaha...
sekarang kita bisa menilai masing-masing, apakah anime kekanak-kanakan setelah tau beberapa efek baiknya, walaupun ada pula efek negatifnya.
Silahkan, itu pilihan anda untuk menilai hal tersebut.
Yang jelas, menurut saya lebih baik menonton anime daripada menonton sinetron yang ga jelas cerita juga nilai moralnya, justru kebanyakan malah merusak moral.
Oh iya satu lagi, saya pun disini tidak menyarankan untuk menonton anime, semua keputusan ada di diri anda sendiri, disini saya hanya memberikan gambaran sedikit mengenai anime.
sekian dan terima kasih :)
Rizki Hardi
Mahasiswa Teknik Pertanian dari Jurusan Teknologi Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto


siiiippp...
trus juga ga semua bisa bikinnya kan?
sehati, gan...