Kenangan yang (terpaksa) dilupakan

By Rizki Hardi , Jumat, 19 Oktober 2012 1:28:00 PM

Hmm, kenapa ya?
Kenapa saya selalu saja memendam, selalu memendam yang seharusnya gausah dipendam.
Memendam yang seharusnya yang tidak ada gunanya dipendam.
Berpikir, berpikir hal yang tidak perlu dipikirkan.
Berat rasanya kalau sudah jatuh ke dalam yang namanya cinta, sangat sulit sekali untuk naik dan keluar.
Namun, jangan salahkan cinta. Cinta memang ada dan anugerah dari yang Maha Kuasa.
Tapi? Bagaimana kita memaknainya, dan bagaimana kita harus bersikap terhadap cinta itu yang patut dipermasalahkan.



Saya, ya saya adalah orang yang telah salah bersikap dalam memaknai arti cinta.
Susah dalam pengaplikasiannya di dunia nyata, selalu salah paham.
Kini, semua cinta yang saya punya telah membuat saya down, jatuh dan terluka.
Jelas, saya telah salah memaknai hal itu.
Namun, berkat adanya cinta, banyak kenangan yang telah dibuat, terutama dengan orang yang dicintai tersebut.
Tapi sangat disayangkan, kenangan itu harus saya lupakan, bukan, terpaksa saya lupakan.
Saya hanya ingin tidak terus berada dalam bayang-bayang dia, saya pun tidak mau lagi membuat dia tidak nyaman selama hidupnya.
Saya ikhlas lillahi ta'ala, kalau memang harus melupakan dia dan semua kenangan dengan dia, asal dia memang bisa bahagia nantinya.

Walaupun dari saya sendiri sangat sayang bila dilupakan, tapi saya pun tidak mau terus menyiksa diri.
Ya memang menyakitkan, dan sangat sulit rasanya melepas orang yang disayang itu pergi dari hati kita, dari hidup kita, namun saya harus merelakan dia pergi. Pergi ke seseorang yang nantinya bisa membuat dia nyaman...
saya akui, kenangan-kenangan kita sangatlah indah... Saya pun tidak bisa memungkiri kalau saya sangat tidak mau melupakan hal itu.
Tapi, apa daya? kalau saya terus terusan berpikir hal itu, hanya akan menyiksa diri
ditambah lagi saya sudah dianggap "kesalahan" bagi dia.
Saya sudah dianggap "lubang kesalahan yang sangat dalam" oleh dia.
dan, dia pun tidak mau lagi melakukan kesalahan yang sama, yaitu menerima saya kembali...
Jadi? Untuk apa terus-terusan mengingat hal itu?
Saya berterima kasih, karena kamu telah sempat membuatku menjadi seseorang yang bisa merasakan cinta. Walau dalam prosesnya sangat buruk dan kamu kecewa.
Saya pun ikhlas kamu menilai jelek diriku sekarang, ya memang pada kenyataannya jelek, hahahaa

Kenangan, semua tinggal kenangan...
Terima kasih banyak atas kenangan - kenangan itu
Saya terpaksa melupakannya, mohon maaf
:)

0 Response to "Kenangan yang (terpaksa) dilupakan"

Posting Komentar