Senyuman dibalik Segala Kekurangan

By Rizki Hardi , Jumat, 24 Agustus 2012 7:48:00 PM

 Ketika itu, saya berada di sebuah warung pinggir jalan sebelah mall yang megah. Disana saya dan bapak saya makan siang, karena kami habis melaksanakan sholat Jum'at di lokasi masjid yang jauh dari rumah. Ketika itu juga hati saya sedang galau dan dilema, karena hari ini bertepatan tanggal 24 Agustus, entahlah kenapa padahal saya sudah ga ada lagi urusan apa-apa dengan tanggal itu, lain lagi apabila kejadian tanggal 20 juli tidak terjadi.



Tapi saya berpikir, mungkin upaya terakhir saya untuk memberikannya hadiah, walau hadiah saya tidak ada apa-apanya lagai dimata dia. Namun pada awalnya saya bingung harus memberikan apa?
Mungkin sedikit ga nyambung dengan kegundahan saya, tapi tiba-tiba saja kegundahan tersebut sirna ketika melihat seorang anak kecil dengan sopannya mengucapkan permisi dengan mengadahkan tangan kearahku. Didampingi oleh (entah) ayahnya yang bermain sebuah ukulele dan bernyanyi. Kasihan sekali anak tersebut, keceriaannya terlihat seperti terenggut akibat kerasnya hidup. Namun itu tidak terlihat dari raut mukanya yang polos dan lugu. Saya memberikan mereka sisa kembalian dari membeli makan siang, dan anak tersebut mengucapkan terima kasih dengan lugunya, lucu sekali dia namun saya sedikit merasa kasihan, karena anak sekecil itu sudah harus mengais rejeki demi sesuap nasi.

Saya berpikir, entah kenapa saya yang masih bisa makan tanpa memikirkan uang sepeserpun dan seenaknya menghabiskan uang pemberian orangtua merasa malu dengan anak kecil tersebut. Dia masih bisa tersenyum, dan berlaku sopan dibalik kesederhanaannya yang sangat sederhana dan terlihat jauh lebih banyak kekurangan dalam hal materi dibandingkan saya yang sudah bisa dibilang berkecukupan namun jarang bersyukur.

Sekilas, saya berpikir. Kenapa saya selalu membuat repot orang tua saya. Hanya karena keinginan saya yang sebenarnya egois semata, yang ingin membuat senang dia, tanpa mementingkan keadaan orang tua membuat saya menjadi orang yang kurang pandai bersyukur juga merepotkan. :')
Andai nanti saya sudah lulus dan bekerja, apakah saya masih ingat dengan orang tua saya? takut itu terjadi akibat terlena dengan keegoisan saya...
Mungkin ini ga nyambung, namun ini semua dapat menjadi pelajaran. Anak kecil pun masih bisa tersenyum dan bersikap sopan dengan semua orang walaupun dia serba kekurangan dan harus terenggut kebebasannya untuk berkembang, tapi kita yang sudah berkecukupan? hanya bisa menuntut dan menuntut tanpa peduli kesulitan orangtua kita, dan jika tidak keturutan, ujung-ujungnya ngambek.

Saya menjadi punya mimpi lagi untuk bisa menjadi anak yang tidak lagi merepotkan orang tua di kemudian hari juga berusaha melatih attitude saya seperti anak kecil itu, ramah tamah dengan semua orang, tidak peduli  dengan derajat seseorang ataupun jabatan...
Sejenak saya mau melupakan kejadian tanggal 20 Juli tersebut, jika memang jodoh ga akan kemana, bagian tulang rusuk yang hilang pun tak akan berpindah ketika memang jodohnya.
Yang harus saya pikirkan sekarang bagaimana untuk saya bisa membahagiakan orang tua. :')

Cirebon, 24 Agustus 2012

Disebuah sudut kecil dalam gubukku tercinta
Dari seorang penulis amatiran
Rizki Hardi

0 Response to "Senyuman dibalik Segala Kekurangan"

Posting Komentar