Namanya juga Mahasiswa Tingkat Akhir (Tulisan gaje mahasiswa yang menginjak masa-masa akhir perkuliahan)

By Rizki Hardi , Sabtu, 13 Juni 2015 11:29:00 PM





“bro, kapan lulus?”
“udah mulai penelitian belum bro?”

Diatas merupakan dua dari sekiaaaaaaaaaan banyak pertanyaan yang akan didapatkan oleh mahasiswa tingkat akhir. YA MAHASISWA TINGKAT AKHIR, merupakan gelar untuk para mahasiswa yang (biasanya) sudah menempuh sampai minimal semester 6. Setidaknya begitulah kaum-kaum diluar sana menjulukinya, ya seperti itu.... ah sudahlah.

Ngomongin mahasiswa tingkat akhir, tentu banyak sekali suka dan dukanya sih. Saya yang dulu merasa masih mahasiswa “fresh” sekarang sudah memasuki fase dimana selalu ditanyain pertanyaan-pertanyaan seperti contoh diatas. Ya namanya juga mahasiswa tingkat akhir.


Lain dulu, lain sekarang. Gelar mahasiswa tingkat akhir yang dulu itu terkesan keren. Kenapa? Karena mahasiswa tingkat akhir dulu biasanya (ingat, biasanya lho ya!) merupakan seorang aktivis-aktivis hebat dengan banyak pengalaman yang ia dapatkan dari luar akademiknya. Selain itu, memang kalau berdasarkan cerita-cerita para senior terdahulu, mahasiswa tingkat akhir (yang dulu) memang perjuangannya lebih dan sangat berbeda dengan yang sekarang. Dahulu yang namanya komputer itu hanya ada di warnet, dan itu pun masih jadul banget men. Kalaupun ada yang punya komputer, pasti terkendala masalah internet ataupun dengan storage (penyimpanan) datanya, memori penuh, kinerja komputer menjadi lemot dan akhirnya skripsi/tugas akhir pun jadi korbannya. Cerita jaman dulu, dosen saya pernah bercerita lewat sambutannya, betapa sulit mahasiswa tingkat akhir jaman dulu untuk memperoleh bahan penelitian. Mereka harus ke perpustakaan, cari bukunya, baca (terkadang harus merangkum juga kalau suatu hari lupa), lalu tulis garis besarnya guna menambah dan melengkapi materi dan tinjauan pustaka serta pembahasan dalam skripsi.

Keren kan? Yang keren itu perjuangan mereka, bukan hanya karena mereka aktivis, tapi mereka pun berjuang juga untuk akademiknya dengan segala keterbatasan fasilitas pada waktu itu. Mahasiswa tingkat akhir yang sekarang jauh lebih canggih, karena kebanyakan sudah mempunyai fasilitas yang memadai, seperti komputer, laptop, koneksi internet dan smartphone. Bukan berarti perjuangan mahasiswa tingkat akhir yang sekarang lebih “dimanjakan” lho, tapi justru seharusnya lebih dan lebih dalam perjuangannya, yaitu perjuangan untuk menghasilkan yang terbaik, termasuk dalam hal menyelesaikan tugas akhir. Dengan canggihnya fasilitas saat ini, tentunya perlu dimanfaatkan dengan baik.

Eh paragraf diatas kayaknya kok ambigu ya? Iya emang sih, soalnya saya bingung mau nulis apa. Yaaa namanya juga mahasiswa tingkat akhir, kebanyakan pikiran. Mulai dari mikirin perencanaan untuk penelitian, survey alat penelitian (kalau yang rancangbangun, uji performansi dan semacamnya), dan teman-temannya, hahahaha.

Belum terjawab mengenai kenapa MTA dulu dan sekarang beda. Saya coba bahas lebih lanjut lagi, kalau yang sekarang dari pengamatan serta pendapat dari orang-orang yang saya tanya, kebanyakan dari mereka (yaitu MTA jaman sekarang) pengen cepat-cepat lulus, tapi terkadang mereka tidak menyadari bahwa mereka hanya ingin cepat lulus tanpa tahu setelah lulus mau kemana dan sudah siapkah mereka untuk terjun langsung di masyarakat. Memang bagus kok lulusnya cepet, tapi kalau dari artikel yang saya baca daaaaan lagi-lagi pendapat para masyarakat diluar sana, banyak mahasiswa dengan embel-embel lulus cepetnya itu malah pada nganggur. Alasannya? Mereka bilang sih banyak dari mahasiswa-mahasiswa tersebut minus dalam hal komunikasi. Ya, sekali lagi, KOMUNIKASI dengan sesamanya. Usut punya usut, ternyata mahasiswa tersebut mahasiswa kupu-kupu (alias kuliah pulang – kuliah pulang), walaupun dia pintar, tapi tidak dapat berkomunikasi dengan baik yaa jadinya begitu deh.

Mahasiswa tingkat akhir memang penuh dilema, pengen lulus cepet tapi ada aja kendalanya. Pengen lulus tepat waktu, tapi banyak faktor penghambat yang membuat jadi terkadang meleset waktu lulusnya. Dan dilema terakhir adalah, mahasiswa tingkat akhir galau, mereka apakah sudah siap atau belum untuk berkompetisi di masyarakat, sedangkan selama kuliah selalu didoktrin untuk lulus cepet dan nilai bagus, sehingga banyak yang mengabaikan kesempatan-kesempatan diluar kegiatan akademik (dalam hal ini organisasi kampus) yang dapat mengembangkan sop sikil, eh salah softskill kita maksudnya.

Yaa namanya juga mahasiswa tingkat akhir, ada aja alasannya dan ada aja lika-liku dalam proses di dalamnya, yang penting usaha dan doa, supaya diberi yang terbaik. Yaudah daripada makin gaje, mendingan lanjutin mikir tentang penelitian, nyicil bahan, garap usulan/skripsi, dan nyiapin mental biar di masyarakat bisa jadi macan, bukan kucing penakut. Dan terakhir, ingat sama orang tua, udah gitu aja, wassalam.

Rizki Hardi
Mahasiswa tingkat akhir Program studi Teknik Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman

0 Response to "Namanya juga Mahasiswa Tingkat Akhir (Tulisan gaje mahasiswa yang menginjak masa-masa akhir perkuliahan)"

Posting Komentar