Belajar Kepo Itu Baik
By Rizki Hardi , Kamis, 07 Juni 2012 6:42:00 PM
Sekarang ini banyak teman-teman terutama yang maniak
situs jejaring sosial atau anak gahool mengenal kata ini. Ya KEPO, itulah kata
yang sedang booming di lingkungan
kita. Kata ini familiar di situs jejaring sosial pada awalnya (saya pun awalnya
belum mengerti, dan akhirnya kepo dengan bertanya kepada mbah google) namun
sekarang sudah banyak yang secara langsung menggunakan kata tersebut apabila
ada seseorang yang bertanya/ingin tahu terhadap sesuatu. Namun biasanya malah
kepo-in yang engga engga, contohnya masalah orang yang seharusnya privasi,
di-kepo-in ma orang lain yang kepo sehingga orang yang di-kepo-in itu merasa
tidak nyaman. Contohnya begini, ketika ada seseorang (sebut saja A) memiliki “sesuatu”
yang privasi, cukup Tuhannya dan dia yang tahu, namun ternyata ada yang kepo
dengan privasinya tersebut (sebut saja B). Nah si B selalu memantau si A
berharap mengetahui “sesuatu” tersebut, otomatis si A merasa ga nyaman dengan
kelakuan si B. Nah, itu maksud dari Kepo yang ga benar.
Sebenarnya kepo sangat baik untuk kita, terutama
teman-teman mahasiswa yang nantinya akan terjun langsung ke masyarakat sebagai
generasi penerus bangsa. Kenapa? Karena kalau kita ga kepo dengan lingkungan
sekitar kita, mana bisa kita menjadi generasi penerus bangsa yang baik. Ga usah
jauh jauh deh, yang dekat aja, kepo dengan keadaan kampus aja dulu. Itu penting
kan mengingat kampus merupakan wadah kita untuk menuntut ilmu dan juga
aktualisasi diri. Kalau kita ga kepo sama kampus, siapa lagi? Sedangkan kalau
kita kepo setidaknya kita mengetahui ada berita apa di kampus, kejadian atau
event apa yang ada di kampus. Contoh deh, sebentar lagi kan ada Dies Natalis
Fakultas Pertanian yang ke-50, kampus kita tercinta ulang tahun teman! Namun apakah kalian
tahu kapan pelaksanaannya? Apakah kalian tahu rumornya ternyata panitianya
tidak melibatkan mahasiswa? sedangkan sosialisasinya pun hanya sebatas
pemasangan baliho di depan gerbang Faperta saja. Ada lagi, tentang rumornya
pengadaan IWM (Iuran Wajib Mahasiswa) yang pada dasarnya akan berguna untuk
kita, apakah tahu perkembangannya sekarang? Diadakan lagi atau tidak? Mungkin kalian yang ga kepo berpikir hal ini hal yang ga penting, tapi untuk orang yang kepo dengan rumor
tersebut di kampus tempat dia menuntut ilmu, pasti tahu kenapa kita harus
bayar, nantinya buat apa, dan siapa yang merasakan, juga tau pelaksanaan Dies Natalis Faperta. Dan tidak kalah penting,
kepo juga dapat membuat kita sukses di kemudian hari, banyak teman-teman kita
dan dosen-dosen pengajar kita yang diluar sana terkenal, karena apa? Karena mereka
kepo. Mereka kepo dengan lingkungan sekitarnya. Contoh lain, ternyata para
penemu-penemu zaman dahulu bisa menemukan “sesuatu” yang dapat membantu kita
dalam melakukan sesuatu, itu karena kepo. Contoh salah satunya yaitu penemuan
pesawat terbang, penemunya itu pada awalnya kepo, kenapa burung bisa terbang
dan manusia tidak, padahal sama-sama makhluk ciptaan Tuhan dan manusia punya
kelebihan berupa akal dan pikiran.
Oke balik ke kampus. Kalau kita kepo, pasti kita mengerti
dengan keadaan kampus kita yang selama ini kita keluhkan masalah fasilitas
kenapa banyak yang rusak, atau apalah keluhannya, dan kita juga bisa memperoleh
informasi bermanfaat, contohnya beasiswa, lowongan pekerjaan, dan info-info
lainnya.
Oh iya saya juga merasa sedikit prihatin dengan para petinggi kampus (Birokrat kampus Fakultas, entah dimanapun fakultasnya), mereka tidak kepo dengan apa yang dirasakan mahasiswanya, apa yang dikeluhkan mahasiswanya, mereka hanya cuek bebek dan ketika ada kritikan masuk ke mereka, mereka hanya menganggap angin lalu, miris sekali. Giliran keluhan keluhan tersebut disebarkan ke muka umum, semua pihak (selain mahasiswa yang mengeluhkan) merasa kebakaran jenggot (entah jenggotnya ada apa enggak, saya ga tau). Mereka pun terkadang melemparkan kembali ke mahasiswa, namun sepenuhnya juga tidak menyalahkan mahasiswa, bisa jadi ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (selain mahasiswa) yang melakukan pengrusakan, itu karena tidak kepo dengan lingkungannya.
Mungkin kalian berpikir kenapa saya membahas masalah ini, apakah saya
kurang kerjaan atau apasih? Nah kalau kalian berpikir begitu, berarti kalian kepo
dengan tujuan saya menulis opini ini. Namun alangkah baiknya kita tidak hanya
kepo dengan urusan orang lain, kita pun harus kepo dengan lingkungan sekitar
kita. Sejujurnya, saya pun kurang kepo terhadap lingkungan sekitar, namun saya akan belajar untuk kepo dengan lingkungan sekitar yang nantinya akan berguna bagi kehidupan saya di kemudian hari. Makanya saya bilang belajar untuk kepo itu baik, asalkan bukan kepo
mengenai privasi orang lain.


Posting Komentar