Aku Mah Apa?

By Rizki Hardi , Sabtu, 13 September 2014 10:18:00 PM

Judulnya agak alay sih, tapi ya sesekali menulis judul yang anti mainstream itu ga masalah lah.
Kalimat yang ada di judul itu selalu saya dengar dari banyak orang. Biasanya itu diucapkan oleh orang yang ingin merendah (atau emang udah rendah dan mengakuinya, oke makin bingung lebih baik skip).
Salah satu contohnya begini : "Aku mah apa, cuma bisa makan tapi nyuci piring gak bersih.", atau enggak, begini : "Aku mah apa? ga pernah dianggap ada oleh orang-orang yang ada di sekitar aku."
Oke beberapa contoh tadi (terutama yang kedua, agak nyesek) dari yang pernah saya dengar dari lingkungan sekitar.


"Aku mah apa?", sebuah ungkapan seseorang yang merasa rendah diri, pesimis dan sedih yang kemungkinan disebabkan pula oleh lingkungan sekitarnya. Namun terkadang juga hanya untuk lucu-lucuan. Ungkapan "aku mah apa" diibaratkan seperti rumput yang ada di padang bunga, merasa berbeda dan minder diakibatkan banyak faktor, seperti merasa terkucilkan, merasa kurang mampu dan teman-temannya. Sebenarnya ada faktor yang lain juga sih, kalau tidak salah ada acara TV yang salah satu pemain dalam acara tersebut sering berucap kalimat tersebut. Ya tau sendiri lah, biasanya kalau udah ngetrend  di TV, ujung ujungnya banyak yang "latah" berucap kalimat tersebut.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kalimat itu, tapi yang dipermasalahkan adalah persepsinya. Terkadang orang lain yang mendengar kita berucap demikian, dianggap sebagai bercandaan (ya kadang juga bisa yang berucap pun maksudnya bercanda). Padahal, belum tentu itu bercandaan, karena setiap perkataan orang bisa jadi benar ataupun salah. Kepekaan merupakan solusi yang dapat mengetahui apakah itu benar atau hanya bercandaan. Contohnya begini : seseorang yang berada di suatu perkumpulan/organisasi. Dia selalu diam, tapi tidak selamanya diam, terkadang berbicara ataupun berpendapat. Tapi sayangnya dia sering sekali dicuekin (diabaikan) oleh teman-temannya (mungkin mereka menganggap dia gak tau apa-apa dan ketika dikasih tau pun tidak menawarkan sebuah solusi). Kalau menurut para ahli THT *lho*, maksudnya menurut saya pribadi, itu pun merupakan suatu masalah yang membuat orang lain minder. Betapa tidak, orang tersebut sudah memasuki zona minoritas, dimana selalu tertinggal kabar berita penting, kesempatan baik, dan tidak jarang pula terabaikan oleh lingkungan sekitarnya. Dan ketika kaum mayoritas datang, kalimat "aku mah apa?" yang sudah terbentuk di dalam hati akibat itu semua keluar, dan kalau kalimat itu keluar, pada umumnya orang tersebut menjadi minder dan tidak bersemangat lagi ketika diajak apapun (termasuk mengikuti kegiatan dan ditawari posisi penting).

Anehnya, kaum mayoritas menganggap itu semua bercandaan, dan terkadang malah makin mengabaikan. Miris memang, minimnya kepekaan seseorang bisa membuat orang lain minder, kalau yang gak kuat iman, bisa aja berubah drastis dan memilih menghindar, dan itu lebih parah lagi (bunuh diri misalkan). Seolah olah itu menjadi penyebab ada gap (jarak) yang membuat adanya feel tidak harmonis dalam sebuah pertemanan (atau dalam suatu organisasi). Peka, itu yang sepertinya sudah memudar dari diri manusia yang katanya makhluk sosial.

Ketika tidak ada lagi orang yang mempedulikanmu, walaupun kamu selalu peduli dengan orang lain, itu sakit. Tapi setidaknya, rasa sakit itu akan sirna nantinya ketika nanti Allah yang Maha Peduli selalu berada di dekatmu. Solusinya lebih mendekatkan diri kepada Allah, udah itu aja.

"aku mah apa, cuma mahasiswa biasa yang berusaha menjalani hidup tenang dan damai."
"aku mah apa, nulis blog aja ngasal dan ga tau apa yang ditulis."
"aku mah apa, orang biasa yang katanya ga ngerti dengan apa yang para pejabat pikirkan."
"aku mah apa, cuma teman biasa yang gak ada apa-apanya sehingga teman-teman yang lain sering mengabaikanku."

Rizki Hardi

0 Response to "Aku Mah Apa?"

Posting Komentar